Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas X. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas X. Tampilkan semua postingan
Struktur Musik/Lagu (5) : TEMA

Struktur Musik/Lagu (5) : TEMA



Tema merupakan gagasan pokok tentang suatu hal, contohnya dalam membuat karya seni.. Pada setiap karya seni tentunya mengacu pada sebuah tema, karena ketika berproses dalam membuat karya seni kita akan berangkat dari menentukan tema terlebih dahulu. Dalam membuat lagu ataupun berbagai jenis musik lainnya kita dituntut untuk memiliki sebuah tema. Tema adalah pondasi dari karya yang akan kita buat. Umumnya tema adalah hal pertama yang dicari para penikmat musik. Jika temanya sesuai, maka para apresiator akan dengan senang hati menyimak karya kita.

Pada karya lagu tema adalah gagasan dasar umum yang menjadi landasan sebuah karya musik sebagai hal utama yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif sehingga membentuk frasa yang secara bertahap akan menceritakan gagasan sampai menjadi cerita yang utuh. 

Dalam karya lagu tema utama biasanya dipecah menjadi tema-tema kecil atau sub tema yang dikenal sebagai periode. Setiap periode memiliki gagasan pokok masing-masing yang akan menceritakan fase demi fase, berperan seperti paragraf dalam karya sastra. Sub tema pada periode tentunya tidak terlepas dari tema utama sebagai dasar dari pengembangan cerita.

Tema dalam lagu sangat beragam, bisa berupa persoalan perasaan, moral, etika, agama, sosial budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan. Tema juga bisa berupa pandangan pengarang, ide, atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.

Komponen tema dari sebuah bentuk struktur musik merupakan bagian yang lebih besar dibandingkan dengan motif dan frase. Tema merupakan gabungan dari bentuk ritme, notasi, dan lirik lagu yang digunakan dalam membentuk suatu karya musik yang dikehendaki penciptanya. Tema dari sebuah karya musik dipilih dan ditentukan untuk memberi gambaran cerita secara umum dari isi karya musik tersebut. Sebagai contoh dalam lagu bertemakan kebahagiaan, maka penulis karya musik tersebut akan bercerita tentang hal-hal membahagiakan yang dialami maupun orang-orang yang menjadi sumber kebahagiaan tersebut. Seperti halnya motif nada, motif ketukan, dan gabungan motif nada dan ketukan, peserta didik dapat menerapkan cara-cara tersebut dalam menentukan maupun membuat tema untuk karya musiknya.

Berikut gambaran hubungan antara tema, periode, frasa, dan motif :


 


Struktur Musik/Lagu (3) : PERIODE

Struktur Musik/Lagu (3) : PERIODE



PERIODE

    Periode dalam struktur musik dapat diibaratkan sebagai paragraf dalam bahasa. Kumpulan beberapa motif menjadi frasa, dan kumpulan beberapa frasa menjadi periode. Seperti halnya paragraf dalam bahasa, periode memiliki gagasan pokok di setiap bagiannya. Perhatikan contoh dibawah ini :

   Periode seringkali diwakili dengan simbol alfabet, contoh : A A1 B1 B2 A2 A3 . Artinya lagu terdiri dari 4 periode, A mewakili bagian pertama (anggaplah paragraf pertama), kemudian A1 merupakan pengulangan dari bagian A dengan motif yang mirip disertai tambahan variasi. B1 dan B2 mewakili bagian yang berbeda dengan motif A, biasanya B memiliki motif nada dan ketukan yang lebih "menarik", seringkali disebut dengan reff. Selanjutnya A2 dan A3 kembali mengulang motif-motif awal, dan tentunya dengan tambahan variasi. Contohnya dapat kita lihat pada potongan lagu berikut :

Bunda - Melly Goeslaw

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri

Kecil, bersih, belum ternoda

A

Pikirku pun melayang

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

A1

Kata mereka, diriku s'lalu dimanja

B

Kata mereka, diriku s'lalu ditimang

B1

Nada-nada yang indah

S'lalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

A2

Tangan halus dan suci

T'lah mengangkat tubuh ini

Jiwa-raga dan seluruh hidup

Rela dia berikan

A3

    Periode memiliki istilah tertentu untuk setiap bagiannya. Silakan baca postingan selajutnya untuk mempelajari tentang istilah dalam periode.



Struktur Musik/Lagu (2) : FRASA

Struktur Musik/Lagu (2) : FRASA

FRASA    

    Frase/Frasa ialah kalimat dalam musik/lagu seperti halnya bagian kalimat dalam bahasa. Frase terbentuk dari    gabungan motif. Frasa dalam musik berbeda dengan frasa dalam bahasa. Dalam bahasa frasa merupakan potongan-potongan kalimat, sementara dalam musik frasa dianggap sebagai kalimat. Perhatikan contoh di bawah ini :


    

Dalam lagu/musik biasanya terdapat sepasang frasa yang berpasangan, seolah-olah kedua frasa itu saling melengkapi. Frasa dalam musik/lagu terdiri dari :

  1. Frasa proposta, seolah olah frasa ini merupakan kalimat tanya. Contoh "balonku ada lima rupa-rupa warnanya", frasa ini dapat dianggap sebagai frasa proposta karena seolah olah kalimat yang digaris bawahi dapat dilanjutkan menjadi kalimat tanya :  "....rupa-rupa warnanya , lalu warnanya apa saja?", sehingga memerlukan frasa selanjutnya untuk menjawab.

  2. Frasa riposta, seolah olah frasa ini merupakan kalimat jawab. frasa inilah yang menjadi jawaban dari frasa proposta sebelumnya. Jika kalimat tanya diatas"....rupa-rupa warnanya , lalu warnanya apa saja?" maka jawabannya berupa frasa riposta : "hijau kuning kelabu merah muda dan biru"

    Perlu diingat kembali bahwa frasa dalam lagu berbeda dengan frasa pada bahasa. Frasa dianggap semacam kalimat. Frasa dalam lagu biasanya berpasangan, terdiri dari frasa proposta yang seolah-olah bertanya dan frasa riposta yang seolah-olah menjawab.





 Struktur Musik/Lagu (1) : MOTIF

Struktur Musik/Lagu (1) : MOTIF


MOTIF

Bentuk struktur dari lagu sangat dipengaruhi oleh keterkaitan antar unsur- unsur musik dalam  membentuk suatu karya komposisi musik. Unsur-unsur  dasar musik yang saling berkaitan dalam sebuah karya musik akan membentuk sebuah komponen baru  dalam kerangka musik yang lebih besar, disebut struktur  musik.  Komponen-komponen  struktur  musik   meliputi motif, frasa, periode, dan tema.

    Dalam struktur musik, motif dapat diartikan suatu bentuk pola ketukan dan melodi yang pendek yang mempunyai arti. Motif terdiri dari motif nada dan motif ketukan.  Dalam musik berlirik (lagu), motif bisa berupa suku kata, kata, atau kumpulan kata yang memiliki arti. perhatikan contoh analisis motif dibawah ini.

    Analisis motif di atas tidak tepat, karena analisis struktur bahasa dengan analisis lagu berbeda. Motif dalam lagu harus mengacu pada  pola ketukan dan melodi yang pendek yang mempunyai arti. Kata "balonku" pada potongan lagu di atas bukan berarti tidak memiliki arti, namun arti/makna yang didapatkan masih terlalu luas.  Arti/makna akan terasa lebih spesifik jika diambil dari sekumpulan kata : "balonku ada lima". 

    Istilah motif lebih familiar di bidang seni rupa, motif seringkali dipahami sebagai pola yang berulang. Hal tersebut juga memiliki sifat yang sama dalam analisis struktur lagu. Perhatikan contoh di bawah ini :

    Bagian lagu "Balonku ada lima" dan "meletus balon hijau" memiliki motif yang sama, naik turunnya nada dan panjang pendeknya ketukan memiliki pola yang berulang. Cobalah kalian nyanyikan bagian lagu tersebut secara bergantian, anda akan menemukan nada dan ketukan yang sama.

    Dapat kita simpulkan bahwa dalam analisis musik, motif adalah unit terkecil dari struktur musk/lagu yang memiliki arti, dan biasanya terdapat pengulangan motif nada dan ketukan pada bagian selanjutnya.





Belajar Not Balok (1)

Belajar Not Balok (1)

Pada umumnya kita lebih akrab dengan notasi angka bila dibandingkan notasi balok, hal ini sangat wajar karena pada umumnya di tingkat pendidikan dasar umumnya kita menggunakan notasi angka sebagai media belajar membaca notasi, sehingga not balok seringkali dianggap sebagai simbol-simbol asing yang sulit dimengerti. Padahal pada kenyataannya tidak serumit itu, membaca not balok sama halnya kita mempelajari huruf-huruf asing seperti jepang, rusia, korea, dll, bahkan jauh lebih mudah dan sederhana.
Mempelajari notasi khususnya not balok merupakan pembahasan materi yang cukup luas, dikarenakan materi ini tidak cukup hanya dipelajari untuk diingat saja tetapi harus dipahami dan diaplikasikan dalam bentuk keterampilan berupa praktek. Postingan ini hanya sebagai teori pengantar untuk mengenal dasar not balok saja, proses pembelajaran yang sesungguhnya harus dilaksanakan dalam tatap muka di kelas.
Not dan tanda istrahat/ not and rest
Not balok ditulis dalam bentuk simbol tertentu, setiap simbol memiliki makna tersendiri, berikut ini adalah bentuk dasar dari simbol not dan tanda diam yang umum digunakan dalam penulisan not balok.
Pada tabel di atas dapat kita lihat bahwa nama not tetap menggunakan bahasa inggris hal ini bertujuan supaya penyebutan nama tidak tertukan dengan nilai ketukan. Untuk tahap dasar pembelajaran kita akan mengutamakan mengenal nilai ketukan dan untuk nama not sementara waktu kita abaikan dulu. Nilai not berarti lamanya not tersebut dibunyikan.

Not bertitik/ dotted not
Titik di depan not memiliki arti “ bernilai setengah dari nilai not dan dijumlahkan dengan nilai not tersebut”. Menghitung nilai not bertitik menggunakan perhitungan dasar bahkan sangat dasar, hanya menghitung penjumlahan bilangan bulat dan pecahan. Berikut ini adalah nilai dari not bertitik
Dan berikut ini adalah nilai dari tanda istirahat bertitik

Legato/ tied not
Legato adalah garis lengkung yang menghubungkan dua buah not, tanda legato memiliki artiseperti tanda tambah (+) yaitu, “menjumlahkan nilai dari dua not yang dihubungkan” Perhatikan contoh berikut
Tanda legato hanya digunakan untuk not saja, sementara untuk tanda istirahat tidak perlu menggunakan tanda legato, penulisan gabungan tanda diam cukup menuliskannya secara berurutan, Contoh tanda diam 7 ketuk :






Musik Dalam Seni Tari

Musik Dalam Seni Tari

Keberadaan dan peranan musik pada pertunjukan tari sangatlah penting, sehingga pementasan tari akan terasa tidak “hidup” tanpa unsur-unsur musikalitas. Hal itu dikarenakan bahwa musik bukan hanya sekedar pengolahan bunyi yang harmonis saja, tetapi didalam musik terkandung juga irama, ritmis, dinamik, tempo, rasa serta jeda. Segala bentuk bunyi dan jeda atau diam tanpa bunyi, ketika itu sudah diolah dan digarap oleh manusia, maka hal itu menjadi sebuah komposisi musik. Manusia yang sedang berbicara dengan tempo dan dinamik yang teratur ataupun tidak, warna suaranya, intonasi, frase dan ketepatan “timming” ketika terjadi dalam dialog teater , secara tidak langsung semua itu harus dengan perasaan, pemikiran, tindakan, dan semua itu merupakan bagian dari komposisi musik Musik ada pada diri dan kehidupan kita, pada denyut nadi, jantung, langka-langkah manusia dan berbagai hal yang dilakukan manusia.
Tari akan dapat lebih hidup bila ada iringan musik, begitu pula musik juga akan terlihat lebih menarik apa bila dibarengi dengan gerakan yang mendukung penampilannya. Dalam hal musik sebagai pengiring tari musik dapat dikreasikan dengan berbagai cara dan berbagai jenis musik yang disesuaikan dengan bentuk irama tari dalam gerak dan tema dalam tari. Walau musik berfungsi hanya sebagai pengiring atau membantu dalam menguatkan ekpresi ( penjiwaan ) dalam karya tari, tidak berarti keberadaannya tidak penting. Karena dalam prakteknya perpaduan antara musik dan tari adalah suatu kesatuan yang utuh dan akan memberi dampak terhadap pertunjukannya
Musik sebagai iringan tari dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu iringan internal dan eksternal.
  • 1. Iringan internal memiliki arti iringan tersebut dilakukan sekaligus oleh penari. Contoh iringan internal antara lain pada tari Saman. Penari manyanyi sebagai iringan sambil melakukan gerak. Iringan internal juga dijumpai pada tari daerah Papua penari menari sambil membunyikan tifa sebagai iringan gerakan.


  • 2. Iringan eksternal memiliki arti iringan yang berasal dari luar penari. Iringan ini dapat berupa iringan dengan menggunakan alat musik yang dimainkan atau pemusik atau yang berasal dari tape recoder. Jenis tari tradisional di Indonesia lebih banyak menggunakan iringan eksternal daripada iringan internal.


Musik iringan tari memiliki fungsi antara lain:
  • 1. Sebagai pengiring gerak, Musik iringan tari sebagai iringan gerakan memiliki arti bahwa ritme musik sesuai dengan ritme gerakan tidak sama. Musik dapat ditabuh secara menghentak tetapi gerakan yang dilakukan dapat mengalir dan mengalun.

Selain itu musik iringan juga memiliki beberapa fungsi yang lain seperti di
a. Mengatur dan member tanda efektif gerak tari
b. Pengendali dan pemberi tanda perubahan bentuk gerakan
c. Sebagai rangsangan bagi penari
d. Mendukung jalannya pertunjukkan
e. Penuntun dan pemberi tanda awal dan akhir dari tarian
f. Membantu mempertegas ekspresi gerak
  • 2. Sebagai ilustrasi, musik iringan tari sebagai ilustrasi mengandung arti bahwa musik dapat menggambarkan susana yang sedang terjadi dalam sebuah tarian.
  • 3. Sebagai pembangun suasana, musik iringan sebagai membangun suasana sering dilakukan pada tarian yang memiliki desain dramatik agar suasana yang ditampilkan sesuai dengan tujuan cerita.

Iringan atau karawitan merupakan teman yang tidak dapat dipisahkan dengan tari, sebab tari dan musik (karawitan) merupakan paduan yang harmonis. Musik atau iringan selain sebagai pengiring atau iringan tari juga berfungsi sebagai pemberi suasana tari yang ditampilkan. Demikian juga warna bunyi untuk iringan tari, tentu disesuaikan dengan gerakan tarinya. Apabila gerak tarinya dinamis, cepat, dan bersemangat, maka warna bunyinya, juga yang berirama cepat, bersemangat, dan keras. Sebaliknya gerak tari yang lemah gemulai, lembut, tenang, maka iringan musiknya juga dipilih yang tenang, syahdu, dan lembut.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih iringan antara lain:
  • 1. Iringan disesuaikan dengan tema atau judul tari
  • 2. Iringan disesuaikan dengan penari. Maksudnya, harus diperhatikan bebagai unsur yang esensial seperti yang menari anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, serta berbagai unsur lain yang dianggap penting.
  • 3. Iringan disesuaikan dengan kemampuan berkreasi para penari.
  • 4. Iringan disesuaikan dengan media musik yang tersedia dan memungkinkan untuk dimainkan selaras dengan tarian.

Musik Dalam Seni Teater

Musik Dalam Seni Teater


Musik pada pertunjukan teater pada dasarnya berfungsi sebagai “penguat” sebuah cerita yang terdapat pada naskah. Namun, pada kenyataannya musik pada teater bisa berfungsi lebih dan berperan sangat penting. Terdapat beberapa fungsi tentang tentang peranan musik sebagai ilustrasi pada pertunjukan teater, yaitu :
  • 1. Musik Pembuka ( Overture )
Berfungsi untuk memusatkan perhatian penonton pada pertunjukan yang akan disajikan, sekaligus memberitahukan bahwa pertunjukan akan dimulai. Oleh karena fungsinya untuk memusatkan perhatian penonton, maka komposisi musik pembuka harus dapat menarik perhatian penonton.
Dalam sebuah karya film biasanya dibuka dengan musik yang khas dengan perusahaan pembuat film tersebut, inilah contoh yang paling mudah didapat untuk mengetahui musik pembuka dalam sebuah karya
teater atau film, karena pada dasarnya film pun merupakan kerabat dari seni teater hanya pengolahannya dibuat secara digital.
  • 2. Musik Penutup
Musik yang berfungsi untuk memberitahukan penonton bahwa pertunjukan telah selesai. Musik penutup ini memungkinkan sekali terjadi kesamaan bentuk komposisinya dengan musik pembuka atau dengan musik lainnya. Musik yang disimpan di akhir cerita dapat dikategorikan sebagai musik penutup.
  • 3. Musik Pergantian Babak
Setiap pergantian babak pada pertunjukan teater ( tari ) alangkah baiknya dan senantiasa diciptakan komposisi musik yang relatif pendek. Komposisi musik ini berfungsi untuk menjaga stabilitas emosi penonton dalam menghantarkan suasana ke babak selanjutnya, selain itu dalam pertunjukan live teater berfungsi juga sebagai persiapan pada aktor dan stage crew untuk babak selanjutnya.
  • 4. Musik Ilustrasi
Musik yang berfungsi membantu mengungkapkan suasana batin aktor dalam penokohan yang ada dalam cerita pada babak atau adegan tertentu. Komposisi musik ini harus bisa membantu aktor dalam mengungkapkan ini hati si aktor, oleh karenanya proses dialog dan kesepakatan antara aktor dan penata musik sangat diperlukan.
  • 5. Musik Sound Track
Sebuah komposisi musik yang biasanya berbentuk lagu atau nyanyian dengan teks yang tema dari lagu atau nyanyian tersebut menjadi tema utama atau pokok dalam cerita.
  • 6. Musik Theme Song
Musik Theme Song adalah musik yang diilhami oleh tema-tema yang dianggap penting dalam sebuah cerita. Musik ini bisa membawakan beberpa karakter sesuai dengan tema adegan pada sebuah cerita dan kadang-kadang disajikan dalam bentuk instrumen.
  • 7. Musik Penokohan
Komposisi musik yang digarap khusus sebagai ciri khas dari kemunculan seorang tokoh. Musik ini harus bisa menjelaskan dan menggambarkan karakter tokoh yang muncul, sehingga penonton akan tahu bahwa dengan
dimainkannya musik tersebut berarti akan muncul tokoh yang menjadi ciri daripada musik tersebut.
  • 8. Musik Aksentuasi
Berfungsi untuk memperjelas maksud dari gerakan aktor. Meskipun pada kenyataanya suatu gerakan manusia tidak berbunyi secara jelas, misalnya ketika dalam sebuah cerita seseorang dikisahkan memukul lawannya, untuk memperjelas gerakan tersebut maka dipertebal dan diperjelas melalui musik aksentuasi.
  • 9. Musik Setting
Musik yang menyajikan tau mengungkapkan tempat dan waktu terjadinya suatu peristiwa. Salah satu contoh misalnya peristiwa malam hari disebuah hutan atau disuatu pedesaan, musik mempunyai peranan penting untuk mengungkapkan keadaan tersebut secara auditif melalui bunyi-bunyi asosiatif atau kreatif tentang suasana tersebut. Secara teknis iringan musik ini harus ada kesinambungan antara suasana, gerak dan musik.
  • 10. Musik Pelebur Emosi
Artinya menghancurkan atau membuyarkan emosi yang telah terbimbing dari adegan-adegan sebelumnya, kemudian dilebur secara sengaja agar penonton sadar bahwa yang mereka lakukan hanyalah sebuah sandiwara.

Keberadaan Musik Dalam Seni Teater dan Tari

Keberadaan Musik Dalam Seni Teater dan Tari

Sumber tulisan diambil dari artikel yang dibuat oleh Dody M. Kholid, S.Pd, M.Sn (Dosen seni musik Universitas Pendidikan Indonesia).
Musik adalah salah satu bidang seni yang mengolah bunyi dan jeda/hening sebagai bahan bakunya. Bunyi bukan hanya diolah secara kerangka harmoni dan alur melodi saja, akan tetapi juga tentang pola ritmis, tempo, ekspresi dan jeda atau diam tanpa bunyi merupakan unsur dari pengolahan musik. Musik bukan saja komposisi yang selalu utuh disajikan secara mandiri atau disajikan secara khusus untuk kepentingan musik, akan tetapi musik bisa saja dikolaborasikan dengan cabang seni lainnya. Salah satu bentuknya adalah dengan pengkolaborasian bersama seni peran atau teater, yaitu bentuk pertunjukan panggung dari akhir zaman pertengahan.
Dalam pertunjukan teater maupun Tari, musik sangatlah erat kaitannya, sehingga ada yang menyebutkan pertunjukan teater atau tari dengan didukung aktor dan penari yang baik pun akan masih terasa “hambar” jika tidak didukung oleh penataan musik yang sesuai dengan konteks cerita yang disajikan. Musik pada pertunjukan teater sejak kemunculannya hingga sekarang masih menjadi polemik. Terjadinya polemik dikarenakan pada setiap pembicaraan tentang teater, orang tidak banyak yang menyinggung tentang keberadaan musik dalam teater. Hal ini disebabkan oleh banyaknya orang yang beranggapan bahwa pertunjukkan teater adalah pertunjukan seni peran, yang didalamnya hanya menceritakan tentang satu alur cerita saja. Anggapan seperti itu tentu saja sangat menyempitkan arti teater itu sendiri, karena pada intinya pertunjukan teater adalah pertunjukan dari gabungan antara semua unsur seni ( peran, musik, tari, rupa, sastra ), yang semua itu memerlukan pemikiran dan keselarasan pada naskah yang akan dipentaskan,berbeda halnya dalam pementasan tari
Keberadaan musik pada teater dan tari sangatlah penting, karena selain berpengaruh terhadap aktor dan penari ( emosi aktor dan penari dapat dicapai melalui musik ), juga berpengaruh terhadap emosi penonton dalam menuntun atau mengapresiasi sebuah karya teater atau tari. Musik untuk teater dan tari pada penggarapannya sangatlah bebas bentuknya, dalam arti musik disesuaikan dengan adegan pada naskah. Meskipun demikaian, musik pada teater/tari bukanlah sekedar musik “pelengkap” yang hanya berfungsi sebagai “pengekor” pada naskah. Pada proses penggarapan musik harus selalu ada kesepakatan antara seorang penata musik, sutradara dan pemain tentang kesesuaian musik dengan adegan atau sebaliknya, adegan yang menyesuaikan terhadap musik. Musik pada pertunjukan teater/tari memang bukan untuk disajikan untuk keperluan pementasan musik, melainkan satu kesatuan yang berfungsi sebagai media untuk memperkuat dalam pengungkapan apa yang dimaksud dari naskah yang akan dipentaskan. Salah satu contoh, terdapat sebuah adegan yang tidak bisa atau tidak mungkin digambarkan secara visual oleh aktor atau penari, maka musik yang memungkinkan untuk mengungkapkan atau menggambarkan dalam bahasa musik tentang apa yang dimaksud oleh adegan tersebut, dalam hal ini penata musiklah yang harus berperan.

Musik Bambu Minahasa

Musik Bambu Minahasa

Minahasa adalah salah satu wilayah yang ada di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki jenis kesenian tradisional “Musik Bambu”. Klasifikasi kesenian tradisional musik bambu ini termasuk dalam kategori musik orkestra instrumental dengan cara memainkannya adalah ditiup. Keberadaannya di tanah Toar-Lumimuut 9cikal bakal etnis Minahasa) diawali dengan satu jenis alat musik tiup yaitu suling (seruling) atau yang disebut juga “bangsing”. Kemudian dalam perkembangannya dilengkapi dengan jenis musik tiup lainnya seperti korno, klarinet, sxsofon dan bas (overton, cello dan tuba), juga jenis alat musik tambahan lainnya yang tidak ditiup antara lain bas drum (tambur besar), snar drum (tambur kecil), symbal dan kapuraca sebagai pelengkap bunyi dan harmonisasi musik instrumentalia. Satu kelompok musik bambu biasanya beranggotakan sekitar 20-50 orang, yang masing-masing memiliki alat musik untuk ditiup atau ditabuh dan lainnya.

Pada awalnya musik bambu tiup dikenal warga masyarakat di sulawesi Utara sekitar abad 18 melalui adanya sekolah-sekolah Zending yang didirikan oleh bangsa barat. Di sekolah-sekolah ini diajarkan seni suara yang kemudian diiringi dengan musik terutama suling dan musik tiup lainnya. Kesenian ini dapat berkembang di Minahasa karena ditunjang dengan tersedianya atau mudah diperolehnya bahan baku bambu, juga didukung oleh minat dan bakat serta perhatian warga masyarakat terhadap seni musik tersebut.
Pertunjukan atau atraksi kelompok musik bambu biasanya ditampilkan pada acara-acara atau hajatan masyarakat seperti pada pesta perkawinan, upacara kematian (pemakaman jenazah), penjemputan tamu (para pejabat pemerintah dan lainnya) dan pada peringatan hari-hri raya nasional juga dalam kegiatan masyarakat yaitu perayaan hari ulang tahun, syukuran baptisan dan lainnya. Teristimewa pada pertunjukan yang paling bergengsi musik bambu di Minahasa terlihat melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan generasi muda dalam perannya ikut memainkan musik ini. 

Demikian pula banyak warga dan kaum muda yang gemar mendengar musik ini, bahkan ada yang telah merekamnya atau memiliki kaset rekamannya sehingga dapat didengar dimana saja baik di rumah, mobil dan di tempat lainnya. Sehubungan dengan itu, maka antisipasi para pelaku seni dalam mempertahankan kesenian khas musik bambu Minahasa ini adalah berupaya terus untuk meningkatkan mutu/kualitas bunyi irama yang harmonis melalui penyajian lagu-lagu yang tidak terbatas pada lagu daerah saja melainkan dapat tampil dengan lagu-lagu yang digemari masyarakat umum sebagai konsumen. Juga melakukan regenerasi pelaku seni oleh para pelaku seni senior agar dapat dilestarikan oleh generasi selanjutnya.

Pa`pompang

Pa`pompang

Seperti halnya masyarakat Sunda di Jawa Barat yang bangga dengan musik angklung, Orang Toraja di Sulawesi Selatan pun pasti bangga karena memiliki musik bambu. Di Tana Toraja, penduduk setempat menyebutnya dengan Pa`pompang atau Pa`bas karena suara bas yang lebih dominan terdengar.
Alat musik bambu dibentuk dari perpaduan potongan-potongan bambu yang berukuran kecil dan besar. Besar-kecilnya ukuran bambu berpengaruh pada nada yang akan dihasilkan ketika ditiup. Potongan bambu yang besar dan tinggi menghasilkan nada rendah, dan sebaliknya potongan bambu yang kecil menghasilkan nada tinggi. Potongan-potongan bambu dilubangi dan dirangkai sedemikian rupa agar bisa menghasilkan bunyi.

Biasanya potongan-potongan bambu diikat dengan rotan agar lebih kuat menyatu, sementara celah sambungan antar bambu ditutupi dengan ter atau aspal agar suara yang dihasilkan bulat dan tidak cempreng. Bambu yang dipilih untuk membuat alat musik ini adalah bambu yang tipis serta memiliki ruas yang panjang, tua, mulus, dan lurus. Hal ini tentu saja didukung oleh alam Toraja yang memang kaya dengan aneka jenis bambu.
Satu kelompok Pa`pompang biasanya terdiri dari 25 atau 35 orang, termasuk peniup suling. Alat musik ini bisa dimainkan oleh semua orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Selain dipergunakan sebagai musik pengiring dalam kebaktian di gereja, Pa`pompang sering juga dipentaskan dalam acara-acara khusus komunitas Toraja di berbagai daerah, seperti acara-acara pernikahan.
Selain Pa'pompang yang biasa digunakan masyarakat di provinsi Sulawesi Selatan juga terdapat alat musik Bambu Minahasa yang berasal dari provinsi Sulawesi Utara yang sering digunakan sebagai media hiburan masyarakat disana. Pembahasan mengenai Bambu Minahasa dibahas pada postingan selanjutnya, Silakan klik disini.


Bambu Hitada

Bambu Hitada

Musik merupakan salah satu kesenian yang paling umum digunakan sebagai media hiburan di masyarakat. Alat musik yang digunakan cukup beragam mulai dari perangkat elektronik uyang modern hingga alat musik tradisional yang masih dipertahankan hingga kini. Berikut ini adalah beberapa bentuk seni hiburan yang ada di Indonesia yang masih mempergunakan alat musik tradisional di dalamnya.
Musik Bambu Hitada adalah salah satu kesenian musik tradisional yang berasal dari Maluku Utara. Kesenian musik satu ini biasanya dimainkan secara berkelompok dengan menggunakan berbagai alat musik tradisional yang khas. Musik Bambu Hitada ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di Maluku Utara, terutama di kalangan masyarakat Halmahera. Dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti pesta adat, upacara adat dan lain-lain.
Asal usul Musik Bambu Hitada berasal dari kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu yang lebih banyak hidup bersama alam. Alam yang luas tidak hanya membantu mereka dalam bertahan hidup, namun juga menjadi inspirasi dalam menciptakan sesuatu, salah satunya adalah Musik Bambu Hitada ini. Dengan menggabungkan beberapa bahan yang mereka dapatkan dari alam, mereka kemudian menciptakan suatu jenis musik yang khas.
Bagi masyarakat di Halmahera, Musik Bambu Hitada ini dulunya tidak hanya digunakan sebagai hiburan saja, namun juga untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal tersebut merupakan kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu yang menggunakan lagu dan musik sebagai media untuk berkomunikasi kepada Tuhan atau leluhur mereka.

Hitada ini. Salah satunya dengan menambahkan berbagai alat musik modern seperti gitar dan biola sebagai pelengkap, namun tidak menggantikan musik aslinya.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Musik Bambu Hitada dimainkan secara berkelompok. Jumlah pemain musik hitada biasanya terdiri dari 7 sampai 13 orang, hal tersebut biasanya disesuaikan dengan keadaan kelompok. Setiap pemain memegang satu alat musik dan kemudian memainkannya sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Dalam pertunjukan Musik Bambu Hitada biasanya dibawakan oleh para pemain musik pria. Adapun wanita dalam pertunjukan tersebut, biasanya bertugas sebagai vokalis. Lagu yang dibawakan biasanya merupakan lagu-lagu adat. Namun ada juga yang menampilkan lagu pop atau modern sebagai kreasi dan variasi agar menarik.
Selain Bambu Hitada juga terdapat alat musik lainnya yang biasa digunakan masyarakat di provinsi Sulawesi Selatan sebagai media hiburan yakni alat musik Pa'pompang yang dapat anda simak pada postingan selanjutnya. Silakan klik disini.

Pupuik Batang Padi

Pupuik Batang Padi

Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdapat instrumen musik yang unik bernama pupuik batang padi. Seperti namanya, alat musik tiup ini terbuat dari batang padi yang sudah tua dan berbuku. Meskipun hanya terbuat dari batang padi, alat ini menjadi bagian dari hiburan rakyat yang menyemarakkan kehidupan masyarakat Minangkabau.

Proses pembuatan pupuik (puput) batang padi terhitung sederhana. Batang padi yang sudah tua dipecah secara hati-hati di dekat pangkal bukunya. Pecahan batang itu akan membentuk semacam pita suara yang menjadi sumber bunyi. Jika ditiup, pita suara itu akan mengeluarkan bunyi yang melengking.
Untuk membuat suaranya semakin melengking, batang padi dapat disambung pada lintingan daun pandan atau kelapa yang membentuk corong seperti terompet. Batang padi yang sudah disambung dengan lintingan daun pandan disebut pupuik laole. Dengan tambahan corong daun pandan ini, lengkingan suara pupuik dapat terdengar hingga 2 kilometer.
Pada dasarnya, pupuik batang padi merupakan instrumen bernada tunggal. Tetapi dengan beberapa modifikasi, instrumen ini dapat mengeluarkan alunan irama yang unik. Modifikasi itu dapat dilakukan dengan melubangi batang padi di beberapa titik yang berfungsi layaknya lubang pada seruling. Permainan nada juga dapat dilakukan dengan mengatur posisi tangan menutupi ujung lubang corong daun pandan. Instrumen inipun membuat suasana perayaan panen raya menjadi semakin semarak dalam kegembiraan.

Pupuik Batang Padi biasa digunakan untuk Maarak Anak Daro/Marapulai pada prosesi adat perkawinan di Kabupaten Agam. Tambua ini tidak dimiliki oleh seluruh kecamatan yang ada di Kab. Agam. Cabang seni ini hanya dapat dijumpai di Kecamatan Tanjung Raya, Matur dan Palembayan.
Selain Pupuik Batang Padi yang biasa digunakan masyarakat di provinsi Sumatra Barat dalam kegiatan ritual juga terdapat alat musik Tarawangsa yang berasal dari provinsi Jawa Barat. Pembahasan mengenai tarawangsa dibahas pada postingan selanjutnya, Silakan klik disini.

Tarawangsa

Tarawangsa

Ngalaksa merupakan upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Rancakalong dalam rangka mengucap rasa syukur kepada Tuhan YME dan penghormatan kepada Dewi Sri atau yang di kalangan masyarakat Sunda dikenal dengan sebutan Sang Hyang Sri atau Nyi Pohaci atas panen padi yang baik dan sebagai motivasi agar panen padi yang akan datang bisa lebih baik dari musim panen sebelumnya. Disamping itu, sebagai penghormatan kepada leluhur yang dalam sejarah perjalanan Rancakalong, telah mencari, membawa bibit padi dari Mataram.

Kesenian tarawangsapun tidak lepas dari perjalanan sejarah tersebut. Menurut salah satu tokoh budayawan di Sumedang Cucu Sutaryadibrata, S.Pd., MM, tarawangsa ikut berperan dalam perjalanan mencari dan membawa bibit padi dari Mataram, yakni pada waktu membawa pulang bibit padi dari Mataram ke Rancakalong, sebagian bibit padi di simpan dan di sembunyikan di dalam ruang resonansi tarawangsa. Oleh karena itu, banyak keterkaitan antara kesenian tarawangsa dan upacara ngalaksa tersebut, baik dalam perjalanan sejarah maupun dalam proses upacara ritualnya.
Selama tiga hari tiga malam, warga adat melakukan tarian yang diiringi Jentreng Tarawangsa. Didahului oleh penari pria yang biasanya seorang ketua adat sebagai penari pembuka. Jentreng Tarawangsa berlangsung semalam suntuk. Sebuah pagelaran yang hanya diiringi alat musik sederhana, yakni tarawangsa sejenis alat musik gesek dengan dua dawai dan jentreng atau kacapi berukuran kecil dengan tujuh dawai. Alunan musiknya terasa lamban dan monoton, namun itulah yang membuat pendengar hanyut terbawa alunan musik. Konon, para penari akan mengalami trance (kondisi tenggelam atau terserapnya kesadaran)

Angklung Buhun

Angklung Buhun

Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya, hal tersebut dikarenakan rentang wilayah yang sangat luas serta sejarah perkembangan budaya yang berbeda di setiap daerahnya.
Berbagai kegiatan adat dalam masyarakat yang bersifat ritual tumbuh bersama perkembangan budaya di dalamnya. Seringkali dalam beberapa ritual di masyarakat melibatkan peran alat musik di dalamnya, bahkan beberapa alat musik dianggap sakral dan hanya dimainkan pada saat kegiatan ritual tersebut. Berikut beberapa contoh kegiatan ritual di masyarakat indonesia yang melibatkan alat musik dalam pelaksanaannya.
  • Angklung Buhun
Upacara adat seren taun merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Sunda Banten yang kental dengan nuansa magis dan sakral. Nuansa sakral ini terbentuk oleh tahapan ritual yang khidmat dalam iringan suara instrumen musik yang mengiringinya. Di antara instrumen musik pengiring prosesi adat seren taun, terdapat alat musik bambu yang disebut angklung buhun.
Instrumen ini dipercaya berasal dari Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Buhun sendiri dalam bahasa Sunda berarti tua atau kuno. Nama ini memanifestasikan sejarah panjang keterikatan masyarakat Baduy dengan instrumen pusaka ini. Menurut sejarah, angklung buhun muncul hampir bersamaan dengan terbentuknya masyarakat Baduy itu sendiri. Karena itulah, kesenian ini dianggap memiliki makna penting dalam mempertahankan eksistensi masyarakat Baduy.
Dari segi bentuk, angklung buhun tidak memiliki perbedaan mencolok dari angklung pada umumnya. Suaranya pun kurang lebih sama. Sedikit perbedaan hanya pada pernak-pernik yang terdapat di sisi atas bingkai angklung ini. Angklung buhun biasanya dilengkapi dengan batang padi yang diikat secara berkelompok atau rumbai-rumbai dedaunan.
Berbeda dari alat musik angklung pada umumnya, angklung buhun merupakan pusaka masyarakat adat yang digunakan secara spesifik dalam ritual adat. Karena itulah, saat ini cukup sulit menemukan kelompok kesenian atau sanggar yang mementaskan angklung buhun. Kecuali dalam penyelenggaraan ritual adat seperti seren taun, kesenian ini jarang sekali ditemui di tengah masyarakat.
Selain angklung buhun juga terdapat alat musik lainnya yang biasa digunakan masyarakat di provinsi Sumatra Barat dalam kegiatan ritual yakni alat musik Pupuik Batang Padi yang dapat anda simak pada postingan selanjutnya. Silakan klik disini.





Aplikasi Gamelan Sunda Android

Aplikasi Gamelan Sunda Android

Gamelan sunda (degung) merupakan salah satu alat musik ansambel yang cukup populer digunakan sebagai media pembelajaran seni musik daerah di berbagai sekolah di wilayah jawa barat khususnya priangan timur. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas menggunakan alat musik ini baik dalam kegiatan belajar maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Berikut ini saya mencoba membuat sebuah aplikasi gamelan virtual berbasis android, namun untuk sementara baru tersedia aplikasi untuk instrument bonang, untuk alat lainnya sedang dalam proses pengerjaan.

Aplikasi ini membutuhkan adobe air untuk menjalankannya, silakan anda download dari web resminya.
Silakan download untuk mendapatkan aplikasi BonangDroid pada link dibawah ini. File disimpan di google drive, sehingga anda harus log in terlebih dahulu ke akun google anda.



Praktik Gamelan Degung (4)

Praktik Gamelan Degung (4)

Berikut adalah lanjutan dari postingan sebelumnya. Dibawah ini adalah materi untuk praktik gamelan degung yaitu lagu catrik dengan laras degung.
keterangan :
  • Pangkat artinya sama dengan intro dalam musik modern
  • KA (kenca), tangan kiri
  • KU (katuhu), tangan kanan
  • NG, goong
  • P, kempul (goong kecil)


Praktik Gamelan Degung (3)

Praktik Gamelan Degung (3)

Susunan nada pada setiap waditra gamelan degung sangat penting kita ketahui sebelum mulai memainkannya. Dalam praktik gamelan degung tidak hanya satu alat saja yang harus bisa dimainkan, tetapi setiap siswa wajib menguasai seluruh waditra dalam gamelan degung (kecuali kendang).
Berikut adalah susunan nada pada waditra gamelan degung.

  • 1. Peking (saron 1)

peking difungsikan sebagai melodi atau difungsikan sebagai pamanis lagu ( filler).

  • 2. Saron Panerus (saron 2)

panerus memiliki fungsi sebagai penerus dari peking yang menjadi patokan nada pada waditra bonang

  • 3. Bonang

Bonang biasanya disusun dengan bentuk V atau menyerupai siku-siku. Pada umunya bonang terdapat 14 penclon yang dibagi menjadi 2 bagian, 7 penclon dibagian kanan dan 7 penclon dibagian kiri yang terdiri dari nada 2 (mi) hingga 5 (la). Penclon-penclon ini disusun diatas rancak dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) diujung sebelah kanan pemain dengan berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) diujung sebelah kiri. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra, pangkat lagu (intro) dibawakan oleh bonang.

  • 4. Jenglong

Jenglong berdiameter antara 30 cm sampai dengan 40 cm, sama seperti pada waditra bonang yaitu disusun dengan bentuk V atau menyerupai siku – siku. Penclon pada waditra jenglong berjumlah sedikit dibandingkan dengan waditra bonang yaitu 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la), 1 (da), 2 (mi), 3 (na), 4 (ti), hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang), dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass; penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang.

  • 5. gong


Waditra gong yang terdiri dari 2 buah penclon, yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak. Kempul (gong kecil) berada di sebelah kiri pemain , sementara goong (gong besar) di sebelah kanan pemain. Ambitus nada gong sangat rendah, bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu. Pemain yang memegang waditra gong hendaknya menguasai lagu sehingga membunyikan kempul dan gong secara tepat pada waktu yang dikehendaki.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik