Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Environmental Art: Bekerja dengan alam secara keseluruhan

Environmental Art: Bekerja dengan alam secara keseluruhan


Cairn, 1997 - Andy Goldworthy

Environmental Art (Seni lingkungan) adalah serangkaian praktik artistik yang mencakup pendekatan historis terhadap alam dalam seni dan jenis karya yang termotivasi secara ekologis dan bermotivasi politik. Seni lingkungan telah berevolusi dari kepedulian formal, bekerja dengan bumi sebagai bahan pahatan, menuju hubungan yang lebih dalam dengan sistem, proses dan fenomena dalam hubungan dengan kepedulian sosial. Pendekatan sosial dan ekologis yang terintegrasi dikembangkan sebagai sikap etis dan restoratif muncul pada 1990-an.
Boulder on the Chalk Stones TrailAndy Goldworthy

Menurut Andy Goldsworthy, "Setiap karya tumbuh, tetap, meluruh (hancur) - bagian integral dari siklus yang ditunjukkan foto pada ketinggiannya, menjadi sebuah penanda waktu ketika pekerjaan itu sedang dikerjakan adalah sesuatu yang paling hidup. Ada intensitas tentang pekerjaan pada puncaknya yang saya harap adalah dinyatakan dalam gambar. Proses dan pembusukan tersirat.
Environmental Art sebagai "gerakan (movement)" dimulai pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, muncul karena meningkatnya kritik terhadap bentuk dan praktik pahatan tradisional yang semakin lama semakin ketinggalan zaman dan berpotensi tidak selaras dengan lingkungan alam.
Dalam environmental art, perbedaan penting dapat dibuat antara seniman lingkungan yang tidak mempertimbangkan kemungkinan kerusakan lingkungan yang mungkin ditimbulkan oleh karya seni mereka, dan mereka yang tujuannya adalah untuk tidak membahayakan alam.
Phase mother earth, 2008 - Nobuo Sekine

Istilah "Environmental Art" seringkali mencakup masalah "ekologis" tetapi tidak spesifik untuk mereka. Ini terutama merayakan hubungan seniman dengan alam menggunakan bahan-bahan alami. Konsep ini paling baik dipahami dalam hubungannya dengan seni bumi / daratan yang bersejarah dan bidang seni ekologi yang berkembang. Lapangan ini interdisipliner dalam kenyataan bahwa seniman lingkungan merangkul ide-ide dari sains dan filsafat. Praktik ini mencakup media tradisional, media baru, dan bentuk produksi sosial yang kritis. Pekerjaan mencakup berbagai kondisi lanskap / lingkungan dari pedesaan, hingga pinggiran kota dan perkotaan serta industri perkotaan / pedesaan.

South bank circle,1991 - Richard Long

Dapat dikatakan bahwa Environmental Art (seni lingkungan) dimulai dengan lukisan gua Paleolitik nenek moyang kita. Meskipun tidak ada bentang alam (belum) ditemukan, lukisan gua mewakili aspek-aspek alam lainnya yang penting bagi manusia purba seperti binatang dan tokoh manusia. "Itu adalah pengamatan prasejarah tentang alam. Dalam satu atau lain cara, alam selama berabad-abad tetap menjadi tema preferensial seni kreatif." Contoh-contoh karya Environmental Art (seni lingkungan) yang lebih modern berasal dari lukisan dan representasi lanskap. Ketika seniman melukis di tempat mereka mengembangkan hubungan yang mendalam dengan lingkungan sekitar dan cuacanya dan membawa pengamatan dekat ini ke kanvas mereka. 


Observatorium - Robert Morris



Teknik cetak dalam seni patung

Teknik cetak dalam seni patung

Salah satu cabang karya seni rupa yaitu seni patung. Sebagimana karya-karya seni lainnya, seni patung juga mengalami perkembangan seiring dengan kebutuhan dalam mengarungi perubahan gaya hidup manusia. Menurut ensiklopedia indonesia ( 1990 : 215 ) seni patung berarti seni pahat atau bentuk badan yang padat yang diwujudkan dalam tiga dimensional yang ciptaanya bisa berupa gambar-gambar timbul (relief) atau patung yang di buat dari media kayu maupun logam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, patung adalah tiruan bentuk orang, hewan, dan sebagainya dibuat (dipahat dan sebagainya) dari batu, kayu, dan sebagainya. Secara umum dapat kita simpulkan bahwa seni patung ialah karya seni rupa yang berwujud 3 dimensi yang diciptakan dengan membentuk bahan bervolume. Bahan yang digunakan bisa berupa tanah liat, kayu, batu, logam dan bahan lainnya dengan menggunakan teknik substraktif yaitu mengurangi bahan seperti dipahat, dipotong, dicukil atau dengan teknik aditif, yaitu menambahkan bahan seperti mengecor dan mencetak.

Kali ini saya akan membahas salah satu teknik yang digunakan dalam mewujudkan patung dengan bahan logam yaitu teknik cetak. Ada dua jenis teknik yang digunakan untuk mencetak patung dengan bahan logam, yaitu teknik bivalve (setangkup) dan a cire perdue (cetak lilin buang)

1. Teknik bivalve (setangkup)

Pengertian teknik cetak bivalve adalah teknik mencetak patung dengan bahan logam menggunakan cetakan yang terbuat dari bahan gipsum, batu, campuran semen dan pasir, silikon (untuk bahan cetakan non logam), fiberglass maupun bahan lainnya yang memiliki sifat bahan yang sama kemudian direkatkan atau di ikat dengan tali di ke-2 sisinya. Sesudah direkatkan atau diikat, lelehan logam dimasukkan ke dalam cetakkan melalui lubang yang berada di bagian atas cetakan. Setelah logam mengeras baru cetakan dilepaskan dan logam diambil. Teknik cetak bivalve ini bisa dikerjakan berulang-ulang karena cetakannya tidak dihancurkan


walaupun pada mulanya bahan yang digunakan ialah logam (khususnya perunggu), seiring perkembangan zaman, maka bahan yang digunakan untuk mencetak patung dengan teknik bivalve tidak melulu menggunakan logam. Namun bisa juga menggunakan bahan cor yang lain, misalnya semen, gipsum, resin atau fiberglass.

2. Teknik A Cire Perdue (cetak lilin buang)

Pada zaman prasejarah, pengrajin Jawa hanya menempa emas dengan palu. Penggunaan panas untuk mengerjakan emas dimulai pada abad-abad pertama Masehi. Pengrajin patung sejak zaman prasejarah sudah menguasai teknik cetak lilin buang dan cara ini diterapkan untuk membuat patung perunggu dan emas. Selain menggunakan teknik A Cire Perdue (cetak lilin buang) untuk membuat patung, mereka juga menggunakan teknik-teknik lain seperti pengecoran, pengukiran, pemahatan, filigree (Filigree atau filigrana adalah sebuah jenis pembuatan perhiasan biasanya dari emas dan perak. Karya tersebut masih populer di India dan wilayah Asia lainnya. Karya tersebut juga populer di Italia, Prancis dan Portugis dari 1660 sampai akhir abad ke-19) dan Repoussé (Repoussé atau repoussage mengacu pada teknik pengerjaan logam di mana logam lunak dibentuk dengan memalu dari sisi sebaliknya. Sehingga jika dilihat dari depan logam akan memiliki efek timbul tenggelam seperti relief) atau cara membuat rancangan relief, juga cukup terkenal dan merupakan seni kerajinan yang tinggi.

Replika temuan Wonoboyo, temuan artefak emas dan perak, dipamerkan di Museum Prambanan. Temuan Wonoboyo asli disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Sekitar Abad ke-8 sampai ke-9 Masehi dibuat dengan teknik Repoussé

Kerajinan Perak Celuk dari Desa Celuk Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali. Dibuat dengan teknik 
filigree

Pembuatan patung dengan menggunakan teknik  A Cire Perdue (cetak lilin buang) diawali dengan membuat bentuk benda logam dari lilin yang berisi tanah liat sebagai intinya. Bentuk awal patung yang terbuat dari lilin ini dihias dengan berbagai pola hias. Bentuk lilin yang sudah lengkap dibungkus lagi dengan tanah liat yang lunak dengan bagian atas dan bawah diberi lubang. Dari lubang atas dituangkan lelehan logam(tentu saja sangat panas) dan dari lubang bawah mengalirlah lilin yang meleleh. Bila logam yang dituangkan sudah dingin, maka cetakan tersebut dipecah untuk mengambil benda yang sudah jadi. Cetakan dengan teknik ini hanya dapat dipergunakan sekali saja.


Perbedaan Teknik Bivalve dan A Cire Perdue 

Berdasarkan keterangan mengenai pengertian teknik Bivalve dan A Cire Perdue di atas, maka dapat kita ketahui perbedaan kedua teknik tersebut, yaitu : 

1. Teknik Bivalve (setangkup), yaitu teknik mengecor dengan cetakan yang bisa dibongkar pasang. Teknik ini digunakan untuk memperoleh hasil dalam jumlah banyak dengan model yang sama. 

2. Teknik A cire perdue (cetak lilin buang), yaitu teknik yang digunakan hanya untuk memperoleh satu hasil atau sekali digunakan. Pembuatan cetakan menggunakan bahan yang mudah dipecahkan, contohnya tanah liat atau juga bisa menggunakan gipsum



Seniman Kaligrafi di Dunia

Seniman Kaligrafi di Dunia



Salah satu bentuk pengembangan dari seni tipografi ialah Kaligrafi. Dalam buku Seni Kaligrafi (1985) oleh Abdul Karim Husain, kata kaligrafi berasa dari bahasa latin yang terdiri dari kalios (calios) artinya indah dan graf (graph) yang berarti gambar atau tulisan. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah Calligraphy, yaitu lisan indah dan seni menulis indah. Tulisan halus yang obyeknya huruf Jawa, Latin, Jepang, hindi, China, Rusia, dan lainnya disebut kaligrafi. Sedangkan dalam bahasa Arab disebut Khat yang artinya garis atau tulisan indah. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kaligrafi ialah seni menulis indah dengan pena.

Berkembangnya kaligrafi hingga menjadi kesenian Islam yang mendunia tidak terlepas dari kiprah kaligrafer-kaligrafer handal di masa lalu. Merekalah tokoh-tokoh yang mendedikasikan seumur hidupnya dalam mempelajari dan mengajarkan seni kaligrafi Islam di dunia Islam. Sebagian karya-karya mereka masih dapat kita jumpai dalam berbagai literatur dan referensi kaligrafi Arab. Peran serta mereka dalam perkembangan dan pelestarian seni kaligrafi Islam tak dapat dipisahkan dari sejarah kaligrafi Islam itu sendiri. Kontribusi nyata dari perjuangan mereka masih dapat kita nikmati hingga saat ini.

Sejumlah nama terus dikagumi dan ikut mendunia bersama kaligrafi yang mereka lahirkan. Diantara seniman-seniman aksara itu adalah Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab, Yaqut Al musta'simi, Hamdullah (Ibn Syaikh), Hafidh Ustmart, Musthafa Al- Raqim, Hamid Al-Amidi, dan Hasyim Muhammad Al-Bagdadi.

Ibnu Muqlah

Kaligrafier yang lahir pada 887 M (272 Hijriyah) di Baghdad ini merupakan seorang wazir (menteri) pada masa Khilafah Abbasiyah. Kemampuan kaligrafinya ia dapatkan atas bimbingan Al-Ahwal Al-Muharrir. Karena kemahirannya dalam menulis kaligrafi, Ibnu Muqlah dikenal sebagai Imam Al-Khaththathin atau Bapak para Kaligrafer.

Salah satu keberhasilan Ibnu Muqlah dalam kaligrafi adalah dalam mengangkat gaya tulis Naskhi menjadi Khath Kufi, selain juga menekuni Khath Tsulus. Sumbangan Ibnu Muqlah dalam dunia kaligrafi bukan pada penemuan gaya melainkan dalam hal pemakaian kaidah-kaidah sistematis, terutama untuk Khath Naskhi.

Sayang, hidup Ibnu Muqlah sangat malang. Kaligrafer hebat yang khatnya pernah digunakan untuk menyalin surat perdamaian (hadnah) antara kaum muslimin dan Bangsa Romawi ini diguncang tekanan berat akibat masalah-masalah kekhalifahan yang sedang bergolak dengan segala kekisruhannya, yaitu tatkala penindasan, korupsi, dan intrik-intrik politik menjadi setan-iblis kekuasaan yang merajalela. Model kepemimpinan pada waktu itu telah menyiksanya dengan beragam penderitaan. Ibnu Muqlah difitnah dan dijebloskan ke penjara. Lalu lengan kanannya yang merupakan "senjata sakti" untuk melahirkan karya-karya hebatnya dipotong. Seperti kisah Nabi Yusuf mendapat ilmu ladunni saat dipenjara, Ibnu Muqlah pun dalam penderitaannya di penjara mendapat inspirasi "puncak ilmu kaligrafi". Ia bertambah kreatif. Dengan lengan kanannya yang buntung, ia terus saja menggores beruji-coba huruf dan mendesain bentuk-bentuknya yang belum beraturan pada waktu itu. Bermodalkan kepandaiannya di bidang ilmu ukur atau geometri, Insinyur Ibnu Muqlah menemukan tata cara menulis dengan mengukur huruf per huruf (ميزان الحروف) secara tepat dan detail. Dengan alat ukur yang disebut mizan ini, bentuk-bentuk huruf sampai ukurannya, tipis-tebalnya, tegak-miringnya, tinggi-rendahnya, lengkungannya menjadi tertib, terukur, seimbang, dan harmonis. Undang-undang ciptaan Ibnu Muqlah ini dikenal dengan sebutan al-khatt al-mansub (الخط المنسوب) alias kaligrafi berstandar yang terdiri atas:

1) Standar Titik.

2) Standar Alif.

3) Standar Lingkaran.

Tiga standar ukur ini mula-mula diterapkan oleh Ibnu Muqlah pada khat Naskhi. Belakangan, seluruh gaya khat kursif (khat selain Kufi) seperti Tsulus, Farisi, Diwani, dan Riq'ah pun menerapkannya dan masih berlaku lebih 1.000 tahun sampai sekarang.

Ibnu Bawwab

Merupakan putra seorang penjaga pintu istana di Baghdad yang menghafal Alquran dan menuliskannya dalam 64 eksemplar. Salah satunya ia tulis dengan gaya Raihani dan disimpan di sebuah masjid di Istambul. Dialah penemu dan pengembang gaya khath Raihani dan Muhaqqah. serta salah satu penerus gaya Naskhi yang diusung Ibnu Muqlah. 

Ibnu al-Bawwab mempunyai nama asli Abul Hasan Ali ibnu Hilal. Sanjungan yang kerap diberikan kepada beliau adalah “tidak ada orang sebelumnya dan setelahnya yang menulis dengan keindahan tulisan yang menyamainya”. Meskipun sebelum masa Ibnu al-Bawwab, telah ada seorang kaligrafer terkenal, yaitu Ibnu Muqlah tetapi pujian di atas mengisyaratkan bahwa dari beberapa sisi, Ibnu al-Bawwab lebih unggul dari Ibnu Muqlah. Tahun kelahiran Ibnu al-Bawwab tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan sekitar tahun 350 H. Dilahirkan dan besar di Baghdad. Dikenal dengan sebutan Ibnu al-Bawwab, karena konon ayah beliau seorang bawwab, yang berarti seorang penjaga pintu. Ibnu al-Bawwab telah hafal al-Qur’an ketika umurnya masih beliau. Belajar sastra Arab kepada seorang ahli bahasa terkenal, yaitu Abu al-Fath Utsman, yang lebih dikenal dengan Ibnu al-Jinni (w. 393 H). Sedangkan untuk khot, beliau belajar dari Abdullah bin Asad al-Katib dan as-Samsarani, keduanya adalah murid Ibnu Muqlah. Sebelum belajar khot, Ibnu al-Bawwab dikenal ahli dalam menghias atap dan dinding rumah. Kemudian beliau juga dikenal sebagai pembuat cincin yang handal. Bahkan setelah dikenal menjadi Kaligrafer yang piawai, beliau pun masih dikenal sebagai sastrawan dan ahli bahasa yang ulung. Beliau pernah mengarang tulisan tentang “seni menulis”. Nama beliau juga disebutkan dalam buku “mu’jam al-udaba'” karya Yaqut al-Hamwi. Sedangkan Ibnu al-Fuuthi memuji Ibnu al-Bawwab sebagai orang yang diberi rejeki keindahan tulisan dan keindahan sastranya.

Ibnu al-Bawwab dan Model Tulisannya Hampir semua kaligrafer dan sejarawan mengakui ketokohan Ibnu al-Bawwab. Bahkan jika sering ditemukan orang yang mengaku lebih unggul dari yang lain di suatu keahlian, maka dalam kaligrafi, tidak ada seorang pun setelahnya yang mengaku lebih dari Ibnu al-Bawwab. Beliau -sebagaimana disinggung di awa tulisan ini- adalah kaligrafer terbaik yang belum pernah ada sebelum dan sesudahnya yang sepertinya, bahkan Ibnu Muqlah sendiri. Ibnu al-Bawwablah yang menyempurnakan huruf-huruf Ibnu Muqlah, seorang kaligrafer yang oleh ِAbu al-Hayyan at-Tauhidi disebut ‘nabinya’ khot. هو نبي في الخط، أُفرغ الخطُّ في يده كما أوحي إلى النحل في تسديس بيوته Jika sanjungan atas Ibnu Muqlah saja sedemikian besarnya, lantas seperti apakah tulisan tokoh kita yang konon keindahana khotnya tidak ada yang menyamai baik sebelum maupun sesudahnya? Al-Qazwini dalam bukunya “Atsarul Bilad” menyebutkan bahwa Ibnu al-Bawwab -dengan kejeniusannya- ‘mengadopsi’ tulisan Ibnu Muqlah untuk membangun model tulisannya sendiri yang beliau tulis dengan sangat indah, sehingga sulit ditiru oleh kaligrafer manapun. Keindahan tulisannya tercermin dari bentuknya yang anggun, kuat, bersih serta rapi. Bahkan jika seandainya beliau menulis huruf alif seratus kali pun, maka semua tulisan tersebut akan sama, tidak ada satu huruf pun yang berbeda karena karakternya yang kuat tadi lahir dari satu ‘cetakan’ yang sama (yaitu tangan Ibnu al-Bawwab). Seorang orientalis D. S. Rice dalam bukunya “The Unique Ibnu al-Bawwab Manuscript” terbitan Dublin (Emery Walker 1955) memaparkan kekagumannya kepada Ibnu al-Bawwab setelah menyelesaikan risetnya yang mendalam tentang keunikan tulisannya dengan obyek mushaf yang beliau tulis yang saat ini menjadi salah satu dari koleksi mushaf al-Qur’an di perpustakaan Chester Beatty di kota Dublin. Hal senada juga diungkapkan oleh seorang peneliti Irak, Hilal Naji yang meneliti tulisan dan karya-karya Ibnu al-Bawwab dalam bukunya “Ibnu al-Bawwab; ‘Abqariy Khat Arabi ‘Abra al-Ushuur”. Hilal Naji menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa Ibnu al-Bawwab mempunyai model dan bentuk tulisan yang ideal, tertuang jelas lewat karya-karyanya. Peninggalan Beliau Ibnu al-Bawwab mewariskan kepada kita semuanya banyak karya. Tidak hanya dalam bentuk mushaf serta tulisan karya kaligrafi, tetapi juga tulisan-tulisan berharga berbentuk “mandzumah” (kumpulan bait syiir) berisi bait-bait yang berisi keterangan lengkap seni kaligrafi. Di antara mandzumah yang telah beliau tulis adalah “Ra`iyah Ibn al-Bawwab fi al-Khatth wa al-Qalam”. Mandzumah ini berisi keterangan tentang alat-alat kaligrafi. Mandzumah ini telah diterbitkan oleh seorang peneliti bernama Muhammad Bahjat al-‘Atsari, di mana mandzumah ini digabung dengan penjelasannya yang dikarang oleh Ibnu al-Wahid Syarafuddin Muhammad bin Syarif az-Zar’i (w. 771 H). Buku yang telah naik cetak tersebut diberi judul “Syarh Ibni al-Wahid ‘Ala Ra`iyah Ibni al-Bawwab”. Dipasarkan pertama kali di Tunis pada tahun 1387 H/ 1967 M. Di antara peninggalan Ibnu al-Bawwab yang abadi adalah mushaf yang beliau tulis di Baghdad tahun 391 H/ 1000 M, yang saat ini terjaga di perpustakaan Chester Beatty di kota Dublin, Irlandia. Mushaf ini dihiasi dengan zahrafah beliau sendiri. Zahrafah yang sangat indah, seindah tulisannya. Peninggalan Ibnu al-Bawwab lainnya adalah sebuah buku karangan Ibu Usman bin Bahr al-Jahidz tentang buku dan urgensi mengoleksi buku yang bagus. Karangan al-Jahidz ini ditulis tangan oleh Ibnu al-Bawwab, saat ini tersimpan di koleksi Turkish and Islamic Arts Museum, di daerah Fatih, Istanbul, Turki. Di akhir buku jelas tertulis “Katabahu Ali ibnu Hilal, Hamidan Allaha Ta’ala ‘ala Ni’amihi”. Ibnu al-Bawwab juga menulis Syi’ir dari Salamah Ibnu Jandal. Tulisan ini bisa didapati pada Museum Topkapı Sarayı di bagian Qashr Bahgdad. Copian lain dari tulisan ini juga terdapat pada perpustakaan Hagia Sophia (Aya Sofia) di Istanbul. Tulisan beliau lainnya yang sampai kepada kita saat ini adalah do’a riwayat dari Zaid bin Tsabit, dan Diwan Syi’ir al-Hadhirah (koleksi Perpustakaan Darul Kutub, Kairo).

Wafatnya Beliau dan Pujian Kepadanya Ibnu al-Bawwab banyak sekali mendapatkan pujian dan sanjungan berkat ketokohannya dalam kaligrafi. Para sejarahwan banyak mencatat nama beliau dengan tinta emas. Mereka semua sepakat bahwa tokoh kita ini adalah imam dalam kaligrafi tanpa ada tandingannya. Di antara para sejarahwan memberi Ibnu al-Bawwab beberapa gelar sebagai penghormatan kepada beliau. Adz-Dzahabi misalnya, menjuluki beliau dengan sebutan “malikul kitabah” (rajanya tulisan), sedangkan al-Fuuthi menyebut beliau sebagai “qalamu Allah ‘ala al-Ardh” (pena Allah di atas bumi), dan Ibnu ar-Ruumi, mengungkapkan kekagumannya kepada Ibnu al-Bawwab dalam sebuah bait ولاح هلال مثل نون أجادها # يجاري النضار الكاتب ابن هلال Ibnu al-Bawwab menjadi pusat perhatian dan kekaguman setiap orang hingga wafat beliau pada tanggal 2 Jumada al-`Ula 413 H/ 3 Agustus 1022 M


Yaqut Al-Musta'simi

Seorang kepala perpustakaan Al- Mistan Syiriyah di Baghdad yang memiliki julukan Jamaluddin dan akrab disapa Abu Durra atau Abu Al- majid. Kaligrafer yang juga penyair ini mengembangkan metode baru penulisan huruf arab serta memelopori penulisan menggunakan bambu yang dipotong miring sebagai pena. Yaqut dikenal melalui filsafatnya tentang kaligrafi, "Al- khaththu handasatun ruhaniyyatun dhaharat bi alatin jasmaniyyatin (Kaligrafi adalah geometri spiritual yang diekspresikan melalui alat jasmani)". Berkat kelihaiannya, gaya Khath Tsuluts berkembang menjadi bentuk ornamental yang dekoratif.

Ibnu Syekh (Syekh Hamdullah Al-Amasi) 

Merupakan salah satu maestro.kaligrafi terbesar sepanjang sejarah Utsmani dan menjadi kiblat para kaligrafier-kaligrafier pada masa itu. Pada zamannya, Sultan Bayazid II (Sultan Utsmani yang memerintah pada 1481-1512 M) belajar kaligrafi padanya. Dan karya-karya yang ditinggalkannya menjadi 'rumus' bagi pengembangan penulisan khath selanjutnya.

Hafiz Ustman (Ustman ibnu Ali)

Berjuluk Al-Hafiz karena telah menghafal Alquran sejak masih muda. Kepandaian kaligrafer yang menekuni gaya Khath Tsuluts dan Naskhi ini tampak dalam karyanya yang berjudul Hiliyah (sebuah deskripsi tentang Nabi Muhammad). Selain itu, ia berhasil menulis 25 mushaf Alquran yang inskripsinya tersebar di seluruh Istanbul, Turki.

Musthafa Al-Raqim

Bakat menulisnya telah nampak sejak ia masih kecil. la mempelajari Khath Naskhi dan Tsuluts dari kakeknya dan menjadi penulis Kesultanan Utsmani pada masa pemerintahan Salim III. Kemudian ia diangkat sebagai Kepala Departemen Seni Lukis Kesultanan. Selain itu, Al-Raqim juga menjadi guru Sultan Salim II dan Mahmud II. Kepandaiannya membuat seorang kaligrafer menulis tentangnya, "Ketika orang Barat bangga dengan Raphael dan Michaelangelo sebagai pelukis, kita seharusnya bangga dengan Al-Raqim sebagai kaligrafer yang jenius."

Hamid Al-Amidi

Kaligrafer yang menetap di Istambul sejak usia 15 tahun dan belajar tentang hukum-hukum kaligrafi dan cabang seni lainnya. Dialah penulis kaligrafi pada dinding- dinding beberapa gedung terkenal dan penting di Istambul. Enam bulan sebelum ia wafat, Pusat Penelitian Sejarah dan Seni di Turki mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul "Hamid Al-Khattath" atau "Hamid Sang Kaligrafer" yang tersebar di beberapa negara termasuk Mesir. Selain menjadi inspirator bagi kaligrafer setelahnya, Hamid Al-Amidi juga pernah memberi ijazah kepada beberapa khattath ternama. Diantaranya adalah dua ijazah kepada Hasyim Muhammad Al- Baghdadi (pada 1950 dan 1952).

Hasyim Muhammad Al- Bagdadi

Dilahirkan di Baghdad pada 1917, Hasyim telah mempelajari kaligrafi sejak usia remaja. Usai memperoleh gelar Diploma dari Mulla 'Ali Al-Fadli pada tahun 1943, ia meneruskan studinya di Royal Institute of Calligraphy Kairo dan lulus pada 1944. Di tahun yang sama, ia memperoleh ijazah dari dua kaligrafer terkenal, Sayyid Ibrahim dan Muhammad Husni. Seorang kaligrafer ternama lainnya, Hamid Al-Amidi, pada 1952 mengukuhkan Hasyim Muhammad Al-Baghdadi sebagai penulis khath terbaik di dunia Islam. Hasyim yang pernah menerbitkan buku tentang gaya penulisan Al-Riq'ah pada tahun 1946 juga dikenal sebagai penulis khath terbaik dalam gaya Tsuluts.

Tahun 1960, Hasyim dinobatkan sebagai pen-tashih kaligrafi Arab di Institute of Fine Art di Baghdad, lalu sebagai Ketua Bahgian Dekorasi Islam dan kaligrafi Arab. la menghembuskan nafas terakhirnya pada 1973, setahun setelah menerbitkan sebuah buku koleksi khath miliknya berjudul "Qawaidh Khatthil Araby" "(Kaidah Penulisan Khath Arab)". Hingga kini buku tersebut merupakan kitab panduan kaligrafi Arab yang paling fenomenal dan dijadikan referensi bagi pelajar kaligrafi Arab di dunia Islam. Selain nama-nama besar di atas, sebenarnya masih banyak nama lain yang mungkin kurang mashur popularitasnya di dunia, atau mungkin tidak terdokumentasi dengan baik mengingat ilmu pengetahuan dan teknologi kala itu tidak secanggih sekarang dalam menyimpan dan mendistribusikan informasi.

Tentu saja masih sangat banyak kaligrafer-kaligrafer handal hingga saat ini. Begitu juga gaya khat yang dihasilkannya.




Struktur Musik/Lagu : KADENS

Struktur Musik/Lagu : KADENS



Komponen struktur yang penting dalam sebuah rangkaian karya musik adalah kadens. kadens merupakan bagian terakhir transisi akor sebelum lagu itu berhenti atau sampai kepada penghujung frase maupun lagu. Ada beberapa macam jenis kadens yang dapat dipelajari dan digunakan secara umum, untuk dasar pembelajaran kita hanya akan mempelajari empat jenis kades yaitu Autentik kadens (Authentic Cadence), kadens setengah (Half Cadence), kadens Plagal (Plagal Cadence), kadens Deseptif (Deceptive Cadence)

Kadens berasal dari bahasa inggris : Cadence, yang memiliki arti naik turunnya nada

Menunjukan bahwa kadens memiliki karakter yang mirip dengan intonasi dalam berbahasa. Intonasi yang berbeda dalam bahasa bisa merubah makna kalimat walaupun memiliki redaksi kata yang sama, karena nada yang dinaikan dengan nada yang datar pasti akan memiliki rasa yang berbeda. Contoh, silakan baca dua contoh kalimat dibawah : 

  1. Buku ini milikmu.

  2. Buku ini milikmu?

dapatkah kamu merasakan perbedaan nada ketika membaca kalimat di atas?

Begitupun dengan kadens, kadens adalah progresi chord (pergerakan akor) di akhir frasa. Setiap kadens memiliki karakter masing masing seperti halnya kalimat berita, kalimat tanya, kalimat yang dijeda, kalimat yang menggantung.

Sebelum mempelajari kadens alangkah lebih baiknya jika dimulai dari mengenal chord. Chord/trinada/akor terkadang disebut dengan kunci (kurang tepat), adalah 3 nada atau lebih yang dibunyikan bersama-sama atau bergantian, biasanya digunakan sebagai pengiring melodi utama dalam lagu. Chord terdiri dari empat bentuk dasar yaitu:

  1. Chord mayor, memiliki “kesan/rasa” gembira atau netral. Ditulis dengan huruf Kapital misal C mayor = C, G mayor = G, F# mayor = F#. Dilambangkan dengan huruf romawi besar misal I, II, III, IV, dst.

contoh bunyi chord mayor

  1. Chord minor, memiliki “kesan/rasa” sedih. Ditulis dengan huruf Kapital ditambahkan “m” setelahnya. misal C minor = Cm, G minor = Gm, F# minor = F#m. Dilambangkan dengan huruf romawi kecil misal i, ii, iii, iv, dst.

contoh bunyi chord minor

  1. Chord diminished, memiliki “kesan/rasa”misterius/tegang. Ditulis dengan huruf Kapital ditambahkan “O” setelahnya. misal C dim = CO, G dim= GO, F#dim = F#O. Dilambangkan dengan huruf romawi kecil dan tanda “O” misal iO, iiO, iiiO, ivO, dst.

(contohnya 3)

  1. Chord augmented, memiliki “kesan/rasa”penasaran/bertanya. Ditulis dengan huruf Kapital ditambahkan “+” setelahnya. misal Caug = C+, Gaug= G+, F#aug = F#+. Dilambangkan dengan huruf romawi besar dan tanda “O” misal I+, II+, III+, IV+, dst.

(contohnya 4)

Selanjutnya chord yang digunakan untuk mengiringi melodi utama memiliki tingkatan. Seperti yang sudah dipelajari di semester 1, kita mengenal adanya 12 tangga nada. Sehingga tingkatan chord akan fleksibel mengikuti tangga nada yang digunakan. Berikut adalah contoh tingkatan chord jika digunakan untuk mengiringi tangga nada pada melodi utama. 

Tingkat

Istilah 

jenis

Contoh Do=C

Contoh Do=A

I

tonic

Mayor

C

A

ii

supertonic

minor

Dm

Bm

iii

mediant

minor

Em

C#m

IV

subdominant

Mayor

F

D

V

dominant

Mayor

G

E

vi

submediant

minor

Am

F#m

viiO

leading tone/subtonic

diminished

BO

G#O

Setelah mengenal jenis dan tingkatan chord, selanjutnya kita kembali ke kadens. Seperti yang disampaikan di atas bahwa kadens adalah pergerakan chord di akhir frasa. Disini kita hanya akan mempelajari kadens di tangga nada mayor saja. Chord yang paling dominan muncul dalam tangga nada mayor adalah chord tingkat I, IV, dan V. Pergerakan chord diakhir frasa inilah yang selanjutnya kita sebut sebagai kadens. Berikut adalah contoh dari kadens :

  1. Autentik kadens (Authentic Cadence), Progresi Chord : V ke I

  2. kadens setengah (Half Cadence), Progresi Chord : I ke V

  3. kadens Plagal (Plagal Cadence), Progresi Chord : IV ke I

  4. kadens Deseptif (Deceptive Cadence), Progresi Chord : V - VI




ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik